Diare merupakan kondisi ketika seseorang buang air besar dengan tekstur tinja yang lebih encer atau berair dan frekuensinya lebih sering dari biasanya. Diare dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari infeksi virus atau bakteri, makanan yang terkontaminasi, intoleransi makanan, hingga efek samping obat tertentu. Karena penyebabnya beragam, pemilihan obat diare sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan gejala yang dialami.
Pentingnya Mengatasi Kekurangan Cairan
Salah satu risiko utama diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit. Karena itu, menjaga asupan cairan menjadi langkah penting ketika mengalami diare. Air putih, kuah, dan cairan yang mengandung elektrolit dapat membantu menggantikan cairan yang hilang. Pada diare yang lebih berat atau ketika terdapat tanda dehidrasi, larutan oralit atau oral rehidrasi dapat digunakan sesuai petunjuk.
Tanda dehidrasi yang perlu diperhatikan antara lain rasa haus berlebihan, mulut kering, buang air kecil lebih sedikit, urine berwarna lebih gelap, tubuh terasa lemas, pusing, atau kepala terasa ringan. Dehidrasi berat dapat menjadi kondisi serius sehingga membutuhkan pertolongan medis.
Jenis Obat Diare
Untuk orang dewasa dengan diare akut tertentu, beberapa obat yang dijual bebas dapat membantu mengurangi gejala. Salah satunya adalah loperamide, yang bekerja memperlambat pergerakan usus sehingga frekuensi buang air besar dapat berkurang. Obat lain yang dapat digunakan pada kondisi tertentu adalah bismuth subsalicylate.
Namun, obat antidiare tidak selalu diperlukan. Jika diare disebabkan oleh infeksi tertentu, tubuh mungkin sedang mengeluarkan organisme penyebab melalui tinja. Karena itu, penggunaan obat untuk menghentikan diare harus mempertimbangkan gejala lain yang muncul.
Kapan Obat Antidiare Sebaiknya Dihindari?
Obat antidiare seperti loperamide sebaiknya tidak digunakan sembarangan ketika diare disertai darah pada tinja atau demam. Kondisi tersebut dapat mengindikasikan infeksi yang membutuhkan evaluasi medis, dan penggunaan obat tertentu untuk menekan gerakan usus dapat memperburuk keadaan pada sebagian kasus.
Selain itu, anak-anak tidak boleh diberikan obat diare bebas tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. NIDDK menyarankan orang tua atau pengasuh untuk berkonsultasi dengan dokter ketika anak mengalami diare.
Apakah Antibiotik Bisa Mengobati Diare?
Antibiotik bukan obat yang digunakan untuk semua jenis diare. Diare akibat virus, misalnya, tidak dapat diatasi dengan antibiotik karena antibiotik bekerja terhadap bakteri tertentu, bukan virus. Pada beberapa infeksi bakteri atau parasit, dokter mungkin mempertimbangkan obat resep berdasarkan penyebab dan kondisi pasien.
Karena itu, sebaiknya jangan membeli atau menggunakan antibiotik sendiri hanya karena mengalami diare. Pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah antibiotik memang diperlukan.
Makanan dan Minuman Saat Diare
Selain memperhatikan obat diare, pola makan dan asupan cairan juga penting. Ketika nafsu makan mulai kembali, seseorang umumnya dapat kembali mengonsumsi makanan seperti biasa sesuai toleransi tubuh. Tidak ada keharusan menjalani diet yang sangat ketat hanya karena sedang mengalami diare.
Hindari hal-hal yang membuat gejala semakin buruk bagi tubuh dan prioritaskan kecukupan cairan. Jika muntah menyertai diare, minumlah sedikit demi sedikit tetapi lebih sering agar tubuh tetap mendapatkan cairan.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Tidak semua diare dapat ditangani sendiri. Segera cari pertolongan medis jika terdapat darah atau nanah pada tinja, tinja berwarna hitam, nyeri perut berat, muntah terus-menerus, tanda dehidrasi, atau demam tinggi. Orang dewasa juga disarankan berkonsultasi jika diare berlangsung lebih dari dua hari atau terjadi enam kali atau lebih buang air besar encer dalam sehari.
Kelompok tertentu, seperti orang lanjut usia, ibu hamil, orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, atau orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, juga perlu lebih berhati-hati ketika mengalami diare.
Kesimpulan
Obat diare dapat membantu mengurangi gejala pada kondisi tertentu, tetapi penggunaannya harus disesuaikan dengan penyebab dan gejala yang muncul. Menjaga cairan dan elektrolit merupakan langkah penting untuk mencegah dehidrasi. Loperamide atau bismuth subsalicylate dapat digunakan oleh sebagian orang dewasa dalam kondisi tertentu, tetapi tidak dianjurkan secara sembarangan ketika terdapat demam atau darah pada tinja. Jika gejala berat, menetap, atau menunjukkan tanda dehidrasi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.